Perkembangan Psycho-Fisik Siswa
PERKEMBANGAN PSYCHO-FISIK SISWA
Ditujukan
untuk memenuhi tugas Psikologi Pendidikan.
Dosen
pengampu: Riris Wahyuningsih M.Pd.
Oleh :
Andhika
Zulkarnain
Firda Mufidha
Rosi Firmansyah
PROGRAM STUDY PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM IBRAHIMY
GENTENG BANYUWANGI
2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kami panjatkan
kehadiran Allah SWT karena berkat hidayah dan inayah-NYA lah, penulis dapat
menyelesaikan makalah Perkembangan Psycho-fisik Siswa ini dengan semaksimal mungkin, apa bila
terdapat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini, penulis hanya mampu mengucapkan
mohon maaf yang sedalamnya, karena kesempurnaan hanya Allah SWT semata yang
memilikinya.
Shalawat beriring salam tak lupa pula kami panjatkan
kepada Nabi Muhammad SAW, karena berkat perjuangan beliaulah kami dapat
menikmati dunia yang serba canggih ini.
Dengan demikian, kami mengharapkan partisipasi dari
teman-teman semua dalam pembahasan makalah ini, tanpa kritik ataupun saran dari
teman-teman semua penulis tidak dapat memperbaiki kesalahan dalam penulisan
makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin Ya
Rabbal’alamin.
Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah..................................................................................... 1
C.
Tujuan........................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Perkembangan......................................................................... 2
B.
Perkembangan psycho-fisik Siswa............................................................ 3
C.
Faktor-Faktor Yang Mempengarui
Perkembangan................................... 5
D.
Sifat Anak-Anak Masa Perkembangan..................................................... 6
E.
Perkembangan Kognitif Siswa.................................................................. 6
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................................ 8
B.
Saran.......................................................................................................... 8
Daftar Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kiranya
tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa problem-problem yang tercakup dalam
pembahasan mengenai perkembangan psiko-fisik siswa itu adalah sangat
luas dan kompleks. Namun, untuk mempermudahkan persoalan, hal yang luas dan
kompleks tersebut dapat juga kita sederhanakan.
Kalau kita sederhanakan, maka problematika
yang menyangkut perkembangan psiko-fisik siswa dapat kita golongkan menjadi
pengertian perkembangan, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, dan
sifat-sifat individu pada masa perkembangan. Berdasarkan latar belakang diatas,
maka disini penulis akan menjelaskan makalah yang berjudul perkembangna
psiko-fisik siswa secara mendalam dan secara ringkas agar mudah untuk dipahami
dan mudah untuk dimengerti.
B.
Rumusan Masalah
Dengan analisis masalah yang sudah
dikemukakan, maka dalam makalah ini diberikan rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa itu perkembangan Psycho-fisik
siwa?
2. Bagaimana Pandangan para ahli
mengenai psycho-fisik siswa?
3. Apa saja factor-fakto yang
memengarui perkembangan psycho-fisik siswa?
C.
Tujuan Makalah
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka tujuan dari karya
ilmiah ini sebagai berikut:
1. Mengetahui perkembangan Psycho-fisik siwa?
2. Mengetahui Pandangan para ahli
mengenai psycho-fisik siswa?
3. Mengetahui factor-fakto yang
memengarui perkembangan psycho-fisik siswa?
BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN PSIKO-FISIK
SISWA
A. PENGERTIAN
PERKEMBANGAN
Perkembangan adalah suatu
perubahan, perubahan kearah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis,
perubahan tersebut biasanya disebut proses. Jadi pada garis besarnya para ahli
sependapat, bahwa perkembangan itu adalah suatu proses. Pendapat dan konsepsi
pada pokoknya dapat kita golongkan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Konsepsi-konsepsi
para ahli yang mengikuti aliran asosiasi
2. Konsepsi-konsepsi
para ahli yang mengikuti aliran Gestalt dan Neo Gestalt
3. Konsepsi-konsepsi
para ahli yang mengikuti aliran sosiologisme
a)
Aliran Asosiasi
Para ahli yang mengikuti
aliran Asosiasi berpendapat bahwa pada hakikatnya perkembangan itu adalah
proses Asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran ini yang primer adalah
bagian-bagian, bagian-bagian ada lebih dulu, sedangkan keseluruhan ada lebih
kemudian. Bagian-bagian itu terikat satu sama lain menjadi satu keseluruhan
oleh asosiasi.
Salah seorang tokoh aliran
asosiasi ini yang terkenal adalah John Locke. Locke berpendapat bahwa
permulaannya jiwa anak itu adalah bersih seperti kertas putih, yang kemudian
sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiri. Dalam hal ini Locke
membedakan adanya dua macam pengalaman, yaitu:
1. Pengalaman
luar, yaitu pengalaman yang diperoleh dengan melalui panca indera, yang
menimbulkan “sensasi”.
2. Pengalaman
dalam, yaitu pengalaman mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri, yang
menimbulkan “reflexions”
b)
Psikologi Gestalt
Pengikut-pengikut aliran
ini mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi yang dikemukakan para
ahli yang mengikuti aliran asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran
Gestalt, perkembangan itu adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah
sekunder, bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada
keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain,
keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.
c)
Aliran Sosiologis
Para ahli mengikuti aliran
sosiologis menganggap bahwa perkembangan adalah proses sosialisasi. Anak
manusia mula-mula bersifat a-sosial (barang kali untuk tepatnya dapat disebut
pra-sosial) yang kemudian dalam perkembangannya sedikit demi sedikit
disosialisasikan. Salah seorang ahli yang mempunya konsepsi demikian itu yang
cukup terkenal dan besar pengaruhnya adalah James Mark Baldwin (1864-1934).
Baldwin berendapat, bahwa setidak-tidaknya
ada dua macam peniruan, yaitu:
1. Nondeliberate imitation
2. Deliberate
imitation
B. PERKEMBANGAN PSIKO-FISIK SISWA
Sebagian ahli menganggap perkembangan sebagai
proses yang berbeda dari pertumbuhan. Menurut mereka, berkembang itu tidak sama
dengan tumbuh, begitupun sebaliknya. Perkembangan ialah proses perubahan
kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan
organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Dengan kata lain, penekanan arti
perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang
oleh organ-organ fisik. Perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia
mengakhiru hayatnya. Sementara itu, pertumbuhan hanya sampai manusia mencapai
kematangan fisik.
Selanjutnya, pembahasan
mengenai perkembangan ranah-ranah psiko-fisik pada bagian ini akan mefokuskan
pada proses-proses perkembangan yang dipandang memiliki keterkaitan langsung dengan
kegiatan belajar siswa. Proses-proses perkembangan tersebut meliputi:
1. Perkembangan
motor (motor development)
2. Perkembangan
kognitif (cognitir development)
3. Perkembangan sosial dan moral (social
and moral development)
1)
Perkembangan motor (fisik) siswa
Dalam psikologi, kata motor digunakan
sebagai istilah yang menunjukkan pada hal, keadaan, dan kegiatan yang
melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya, juga kelenjar-kelenjar dan
sekresinya (pengeluaran cairan/getah). Motor dapat pula dipahami sebagai segala
keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap
kegiatan organ-organ fisik.
Ada empat faktor yang yang mendorong
kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga
memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya, yaitu:
Pertama, pertumbuhan dan
perkembangan sistem syaraf (nervous system). Sistem syaraf adalah organ
halus dalam tubuh yang terdiri atas struktur jaringan serabut syaraf yang
sangat halus yang berpusat di central nervous system. Pertumbuhan
syaraf dan perkembangan kemampuannya membuat intelegensi (kecerdasan) anak
meningkat dan mendorong timbulnya pola-pola tingkah laku baru. Semakin baik
perkembangan kemampuan sistem syaraf seorang anak akan semakin baik dan
beraneka ragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinnya. Namun uniknya,
berbeda dengan organ tubuh lainnya, organ system apabila rusak tak dapat
diganti atau tumbuh lagi.
Kedua, pertumbuhan otot-otot.
Otot adalah jaringan sel yang dapat berubah memanjang dan juga sekaligus merupakan
unit atau kesatuan sel yang memiliki daya mengkerut. Di antara fungsi-fungsi
pokoknya ialah sebagai pengikat organ-organ lainnya dan sebagai jaringan
pembuluh yang mendistribusikan sari makanan (Reber, 1988). Peningkatan tonus (tegangan
otot) anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatan aneka ragam kemampuan
dan kekuatan jasmaniny. Perubahan ini tampak sangat jelas pada anak yang sehat
dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak tersebut dalam
permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan tangan semakin
meningkat kualitasnya dari masa kemasa.
Ketiga, perkembangan dan
perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin (endocrine glands). Kelenjar
adalah alat tubuah yang menghasilkan cairan atau getah, seperti kelenjar
keringat. Selanjutnya, kelenjar endokrin secara umum merupakan kelenjar dalam
tubuh yang memproduksi hormon yang disalurkan ke seluruh bagian dalam tubuh
melalui aliran darah.
Keempat, perubahan struktur
jasmani. Semakin meningkat usia anak akan semakin meningkat pula ukuran tinggi
dan bobot serta proporsi (perbandingan bagian) tubuh pada umumnya. Perubahan
jasmani ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan
kecakapan motor skills anak. Kecepatan berlari, kecepatan
bergerak, kecermatan menyalin pelajaran, dan sebagainnya akan meningkat seiring
dengan proses penyempuenaan struktur jasmani siswa.
2)
Perkembangan kognitif siswa
Sebagian besar psikolog terutama kognitivis
(ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif
manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Bekal moral dasar perkembangan
manusia, yakni kapasitas motor dan kapasitas sensori seperti yang telah
diuraikan di muka, ternyata sampai batas tertentu, juga dipengaruhi oleh
aktivitas ranah kognitif.
3)
Perkembangan sosial dan moral siswa
Dalam proses-proses
perkembangan lainnya, proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalu
berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinnya, kualitas proses belajar
(khususnya belajar sosial) siswa tersebut, baik dilingkungan sekolah dan
keluarga maupun dilingkungan yang lebih luas. Ini bermakna bahwa proses belajar
itu amat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang
selaras dengan norma dan moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma
moral yang lainnya yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan.
Tokoh-tokoh psikologi telah banyak melakukan
penelitian dan pengkajian perkembangan sosial anak-anak usia sekolah dasar dan
menengah dengan penekanan khusus pada perkembangan moralitas mereka. Maksudnya,
setiap perkembangan sosial anak selalu dihubungkan dengan perkembangan perilaku
moral, yakni perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat.
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
Persoalan mengenai faktor-faktor
apakah yang mempengaruhi perkembangan itu, atau kalau dirumuskan lebih luas
hal-hal apakah yang memungkinkan perkembangan itu, juga dijawab oleh para ahli
dengan jawaban yang bermacam-macam sekali. Pendapat yang bermacam-macam itu
pada pokoknya dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Pendapat
ahli-ahli yang mengikuti aliran Nativisme
2. Pendapat
ahli-ahli yang mengikuti aliran Empirisme
3. Pendapat ahli-ahli yang mengikuti
aliran Konvergensi
a)
Nativisme
Para ahli yang mengakui aliran Nativisme
berpendapat, bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh
faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (natus artinya lahir), jadi perkembangan
individu itu semata-mata tergantung kepada dasar.
b)
Empirisme
Para ahli yang mengikuti pendirian Empirisme
mempunyai pendapat yang langsung bertentangan dengan pendapat ahli Nativisme.
Kalau pengikut aliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata
tergantung pada faktor dasar, maka pengikut-pengikut aliran Empirisme
berpendapat bahwa perkembangan itu semata-mata tergantung pada faktor
lingkungan, sedangkan dasar tidak memainkan peranan sama sekali.
c)
Konvergensi
Nyatalah kedua pendirian yang baru saja
dikemukakan itu kedua-duanya ekstrim, tidak dapat dipertahankan. Karena itu
adalah sudah sewajarnya kalau diusahakan adanya pendirian yang dapat mengatasi
keberatsebelahan itu. Paham yang dianggap mengatasi keberatsebelahan itu ialah
paham konvergensi, yang biasannya dirumuskan secara baik untuk pertama kalinnya
oleh W. Stern.
Paham
konvergensi ini berpendapat, bahwa di dalam perkembangan individu itu baik
dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting.
Suatu
pengupasan hal yang sama itu, tetapi dari sudut yang agak berbeda adalah apa
yang dikemukakan oleh Langeved. Langeved secara fenomenologis mencoba menemukan
hal-hal apakah memungkinkan perkembangan anak itu menjadi orang dewasa, dan dia
menemukan hal-hal yang berikut:
1)
Justru karena anak itu adalah makhluk hidup
(makhluk biologis) maka dia berkembang.
2)
Bahwa anak itu pada waktu masih sangat muda
adalah sangat tidak berdaya, dan adalah suatu keniscayaan bahwa dia perlu
berkembang menjadi lebih berdaya.
3)
Bahwa kecuali kebutuhan-kebutuhan biologis
anak memerlukan adannya perasaan aman, karena itu perlu adanya pertolongan atau
perlindungan dari orang yang mendidik.
4)
Bahwa dalam perkembanganya anak tidak pasif
menerima pengaruh dari luar semata-mata, melainkan ia juga aktif mencari dan
menemukan.
D. SIFAT ANAK-ANAK PADA MASA PERKEMBANGAN
Anak-anak didik kita selama masa
perkembangannya itu mempunnyai kehidupan yang tidak statis, melainkan dinamis,
dan pendidikan yang diberikan kepada mereka haruslah disesuaikan dengan keadaan
kejiwaan anak-anak didik kita pada masa tertentu dalam perkembangan mereka.
Sudah barang tentu tidak ada orang yang
menyangkal, bahwa perkembangan itu merupakan hal yang kontinu, akan tetapi
untuk dapat lebih mudah memahami dan mempersoalkannya biasannya orang
menggambarkan perkembangan itu dalam fase-fase atau periode-periode tertentu.
Masalah periodesasi ini biasannya juga merupakan masalah yang banyak
diperbincang kan oleh para ahli, pendapat mereka mengenai dasar-dasar mengapa
perlu dilakukan periodesasi itu juga bermacam-macam, akan tetapi umumnya para
ahli sependapat bahwa periodesasi itu dasarnya lebih bersifat tekhnis daripada
konsepsional.
E. PERKEMBANGAN
KOGNITIF SISWA
Istilah “cognitiv” berasal
dari kata kognition yang padanannya knowing, berarti
mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah
perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam
perkembangan selanjutnya istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu
dominan atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku
mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di
otak ini jga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan efeksi (perasaan) yang
bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972).
Menurut para ahli psikologi kognitif,
pendayagunaan kapasitas ranah kognitif manusia sudah mulai berjalan sejak
manusia itu mulai mendaya gunakan kapasitas motor dan sensorinya. Hanya, cara
dan intensitas pendaya gunaan kapasitas ranah kognitif tersebut tentu masih
belum jelas benar. Argumen yang dikemukakan para ahli mengenai hal ini antara
lain ialah bahwa kapasitas sensori dan jasmani seorang bayi yang baru lahir
tidak mungkin dapat diaktifkan tanpa aktivitas pengendalian sel-sel otak bayi
tersebut:
1.
Tahap sensori motor
Selama perkembangan dalam periode sensori
motor yang berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang
dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan
pada perilaku terbuka. Meskipun primitir dan terkesan intelegensi dasar yang
amat berarti karena ia menjadi fondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu
yang akan dimiliki anak tersebut kelak.
2.
Tahap pra-operasional
Perkembangan kognitif pra-operasional terjadi
dalam diri anak ketika berumur 2 sampai 7 tahun. Perkembangan ini bermula pada
saat anak telah memiliki penguasaan sempurna mengenai object permanen.
Artinnya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya, suatu
benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut seudah
ditinggalkan atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi eksistensi
benda tersebut berbeda dengan sensori-motori, tidak lagi bergantung pada
pengamatannya belaka.
3.
Tahap konkret-operasional
Berakhirnya tahap perkembangan
pra-operasional tidak berarti berakhirnya pula tahap berpikir intuitif yakni
berfikir dengan mengendalikan ilham seperti yang telah di contohkan diatas.
Dalam konkret-operasional yang berlangsung
hingga usia menjelang remaja, anak memperoleh tambahan kemampuan yang
disebut system of operations anak memperolah tambahan
kemampuan yang disebut berpikir ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan
pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu kedalam sistem pemikirannya
sendiri.
4.
Tahap formal-operasional
Dalam tahap perkembangan formal-operasional,
anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11
sampai 15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran
konkret-operasional.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan makalah diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa Perkembangan adalah suatu perubahan, perubahan kearah
yang lebih maju, lebih dewasa. Secara teknis, perubahan tersebut biasanya
disebut proses. Jadi pada garis besarnya para ahli sependapat, bahwa
perkembangan itu adalah suatu proses. Sebagian ahli menganggap perkembangan
sebagai proses yang berbeda dari pertumbuhan. Menurut mereka, berkembang itu
tidak sama dengan tumbuh, begitupun sebaliknya. Perkembangan ialah proses
perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan
organ-organ jasmaniahnya itu sendiri.
Dengan kata lain, penekanan arti perkembangan
itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh
organ-organ fisik. Perkembangan akan berlanjut terus hingga manusia mengakhiru
hayatnya. Sementara itu, pertumbuhan hanya sampai manusia mencapai kematangan
fisik.
B. Saran
Dalam membuat dan membahas makalah
ini, penulis banyak mengambil literatur-literatur dari buku-buku bacaan dan
sumber-sumber lainnya . Namun, analisis yang digunakan untuk
bias dan interpretasi tidak memungkinkan yang sama persis dengan yang dikutip.
DAFTAR PUSTAKA
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2012).
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan:
Dengan Pendekatan Baru, (Jakarta: Remaja Rosda Karya, 2011).
Sumadi
Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 2002).

Comments
Post a Comment